Nama   : Nur Laili Fitriani Zaen

NRP    : H24100016

Laskar : 17 (Andi Hakim Nasution)

Idealisme itu…

Beberapa minggu menjelang ujian akhir nasional.

Sekolah makin ramai dengan aktivitas siswa-siswi kelas tiga yang tengah mempersiapkan diri guna menghadapi ujian akhir nasional. Ruang kelas sebagai tempat belajar mengajar tidak hanya digunakan saat jam sekolah resmi, diluar jam sekolah pun seringkali dijumpai murid-murid yang mengadakan tutor sebaya. Jam tambahan dari sekolah diikuti para siswa dengan antusias.

Meski sudah membekali dirinya dengan materi yang sekiranya akan keluar dalam ujian, jarang sekali siswa yang pede dengan kemampuannya sendiri. Tak jarang yang merencanakan akan ‘tolong-menolong’ saat ujian. Bahkan sampai direncanakan dengan matang. Ada juga yang tidak mengikat janji terlebih dahulu, tetapi hanya akan mencontek bila terdesak.

Di sebuah kelas terdengar kasak-kusuk para siswa yang sibuk membicarakan ujian akhir nasional. Mereka sedang membahas kerjasama saat ujian nanti. Di salah satu kerumunan terdengar seorang anak yang bertanya pada temannya, “Ai, kalau kamu gimana? Tetep nggak mau nyontekin pas ujian ntar?”. Ai, seorang siswi yang dikenal tidak mau mencontek dan memberikan contekan saat ulangan, agak bingung menjawab, “Ehm…gimana ya. Enggak”. Teman Ai hanya mengangguk maklum.

Beberapa hari berikutnya.

Ai merasa sikap beberapa temannya terhadap dirinya agak berbeda. Entah hanya perasaannya saja atau memang kenyataannya begitu. Dia agak terganggu akan hal itu. Agar keresahan hatinya berkurang iapun sharing dengan kakaknya. Setelah bercerita dan mendapat saran, Ai semakin mantap dengan komitmennya untuk jujur saat ulangan.

Hari itu di lapangan sekolah tersebut ada deklarasi dari siswa-siswi kelas tiga bahwa mereka akan lulus dari sekolah tersebut dengan nilai ujian nasional yang memuaskan.

Setelah acara utama selesai dan tinggal acara kelas masing-masing, saat itulah Ai memberanikan diri memanfaatkan momen tersebut untuk mengeluarkan uneg-unegnya. “Temen-temen, maaf ya kalau aku enggak sejalan sama kalian. Aku akan membantu sebisaku. Kalau kita mau belajar bareng ayok aja. Bisa di sekolah atau di rumahku. Kalau kalian mau tanya lewat sms pun enggak apa-apa. Kalau aku bisa insya Allah aku jawab. Aku juga minta maaf atas segala salah yang pernah aku perbuat selama kita kenal. Semoga saat ujian nanti kita semua dimudahkan dalam mengerjakan dan mendapat hasil yang maksimal. Amin..”, begitu kata Ai dihadapan teman-temannya.

Pada hari-hari berikutnya Ai dan teman-temannya belajar bersama di sekolah. Terkadang rumah Ai pun ramai oleh teman-temannya yang datang untuk belajar bersama. Hal itu tidak membuat Ai kesal. Ai justru senang dengan kegiatan itu, karena dengan demikian rasa kebersamaan diantara anak-anak kelasnya makin erat, rumahnya makin ramai, dan yang paling penting bekal mereka untuk menghadapi ujian akhir nasional makin bertambah. Sikap beberapa temannya yang sempat ‘berbeda’ terhadap dirinyapun kini Ai rasakan kembali normal. Alhamdulillah, pada akhirnya teman-teman Ai mau menerima idealismenya.

Akhirnya hari H pun tiba. Tanpa adanya sistem yang terorganisir untuk saling memberi jawaban, Ai dan teman-temannya dalam satu ruangan mengerjakan soal-soal ujian nasional. Ai mengerjakan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Ia pasrah dan tawakal pada Allah SWT, bagaimanapun hasilnya nanti yang penting ia sudah berikhtiar.

Sebulan kemudian.

Sekolah kedatangan banyak tamu hari itu. Lalu lintas jalanan di depan sekolah penuh sesak. Macet. Tamu-tamu itu tidak lain adalah orang tua murid yang akan mengambil hasil ujian nasional milik anak-anak mereka. Tak ketinggalan ayah Ai yang seorang PNS pemkot datang ke sekolah untuk mengambil hasil ujian milik Ai.

Ai dan murid-murid lain menunggu di depan sekolah dengan sepeda-sepeda mereka. Sepeda? Ya, murid-murid sekolah itu memang memiliki tradisi konvoi dengan bersepeda untuk menyatakan rasa syukur atas kelulusan mereka. Selain tidak membuat kebisingan di jalan raya, konvoi sepeda tentunya lebih ramah lingkungan dibanding konvoi sepeda motor.

Beberapa menit berlalu, para orang tua muridpun keluar dari sekolah dengan wajah sumringah. Rupanya semua murid di sekolah tersebut lulus dengan nilai yang baik, tak terkecuali Ai.

Ai celingak-celinguk mencari ayahnya diantara para orangtua murid. “Nah itu Bapak”. Segera saja Ai menghampiri ayahnya. “Bagaimana hasilnya Pak?”, tanya Ai pada ayahnya. “Bagus..Nih”, jawab ayahnya seraya menyerahkan amplopnya. Ai melongok isi amplop tersebut. Disana hanya tertera jumlah nilai keseluruhan tanpa rincian per mata pelajaran. 53,95. Alhamdulillah, ucap Ai dalam hati. “Nggak ada 100nya ya Pak?”, tebak Ai. “Iya”. “Maaf ya Pak”, sahut Ai sedikit merasa bersalah tidak bisa mempersembahkan yang terbaik. “Ya ga papa tho ya. Nilaimu bagus kok. Sudah ya Bapak pulang dulu. Ati-ati konvoinya”. “Ya, Pak”. “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumsalam”.

Kepercayaan pada diri sendiri adalah asas kokoh bagi setiap kesuksesan dan keberhasilan.

Arif Bijak

Allah tidak berorientasi pada hasil, tapi pada proses mengenai apa yang kita perbuat. Maka belajarlah mengubah diri menjadi lebih baik, karena tidak ada seorang pun yang terlahir dalam keadaan sukses ataupun pandai.

Muthi’ Masfu’ah -penulis Jilbab Pertamaku-

Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik…

Jangan Menyerah -d’Masiv-

Cerita ini diangkat dari kisah nyata yang tidak mengada-ada dari diri penulisnya sendiri.

Pekalongan, 14 September 2010

Nama   : Nur Laili Fitriani Zaen

NRP    : H24100016

Laskar : 17 (Andi Hakim Nasution)

Jangan Takut Bermimpi

Saya akan bercerita tentang sepenggal kisah hidup dari Bapak Aswandi As’an. Beliau sendiri yang menceritakannya di depan siswa-siswi kelas XII SMA N 1 Pekalongan pada acara Create Your Own Future, sebuah training motivasi yang diselenggarakan oleh Bapak Ir. H. Heppy Trenggono, M.Kom khusus untuk adik-adiknya kelas XII SMA N 1 Pekalongan yang akan menghadapi ujian akhir nasional.

Bapak Aswandi As’an berasal dari sebuah kota kecil di Indonesia. Ayahnya hanyalah seorang nelayan yang penghasilannya tidak tetap. Untuk makan sehari-hari saja harus berhemat, apalagi untuk biaya sekolah. Tetapi beliau tidak berputus asa. Beliau tetap semangat belajar. Alhamdulillah beliau masih berkesempatan untuk menamatkan SMAnya di kota asal.

Selepas SMA beliau merantau ke pulau Jawa. Beliau melanjutkan ke IAIN. Karena ayahnya tidak bisa secara rutin mengirim uang kepada beliau, beliau sempat bekerja sebagai seorang pemulung. Itu dilakukannya untuk menyambung hidup dan kuliahnya.

Suatu hari beliau mengambil peta dan menandai tempat-tempat di seluruh dunia yang ingin beliau kunjungi. Ketika temannya melihat apa yang beliau lakukan, temannya menertawakan beliau karena menurutnya itu adalah suatu hal yang mustahil bagi seorang pemulung seperti Pak Aswandi. Namun, Pak Aswandi tidak berkecil hati. Beliau tidak takut bermimpi tinggi karena prinsip yang beliau pegang adalah ‘tidak apa-apa bermimpi tinggi tetapi tidak tercapai dibanding bermimpi rendah tetapi tercapai’.

Beliau tidak hanya bermimpi tetapi juga bekerja keras untuk mewujudkan impiannya. Sampai akhirnya dengan kemampuan beliau, beliau menjadi reporter metro tv dan dalam tugasnya  berkesempatan berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang pernah ditandainya dalam peta beberapa tahun silam.

Itulah kekuatan impian. Celakalah bagi orang-orang yang tak pernah berani bermimpi. Karena tanpa impian hidup kita mati.

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

Andrea Hirata

Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Bapak Aswandi As’an bila ada bagian dalam cerita ini yang kurang tepat karena keterbatasan memori saya yang belum secanggih memori komputer.

Pekalongan, 15 September 2010